Minggu, 31 Juli 2016

 Dengan berkembangnya zaman, cita-cita dan karakter tidak bisa lagi hanya di dengungkan dengan dongengan menjelang  tidur. Karena generasi kita saat ini generasi gadget, dan secara tidak langsung kita sebagai orang dewasa yang telah mencemari anak-anak kita dengan teknologi yang dimana mereka semua masih belum siap. Dan ketidaksiapan ini, apabila terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan mereka hanya bermain dan bermain pada kehidupan ilusi, yaitu game dan dunia maya.

  Oleh sebab melihat fenomena ini, menonton film bisa dijadikan salah satu alternatif lain guna membentuk karakter dan keinginan anak akan cita-citanya. Adapun cara ini bisa dijadikan alternatif yang efektif karena semakin sering anak-anak melihat film-film motifasi atau kisah-kisah kepahlawanan, maka dengan demikian di dalam otak mereka akan tersimpan bagaimana sifat para pahlawan atau orang-orang yang menginspirasi.

   Jika anda ragu, saya sarankan melakukan riset kecil pada anak usia 2-6 yang sudah terbiasa melihat tontonan televisi atau film kartun, coba amati tingkah laku mereka, apakah menirukan tokoh yang mereka lihat? jika iya, ini sudah tanda bahwa mereka sudah termotifasi oleh tokoh yang sering mereka lihat. Lalu lakukan riset kecil lagi, tanyakan apa cita-cita mereka. Mungkin anda akan heran jika yang muncul atau mereka ucapkan adalah ingin seperti ultramen, upin dan ipin atau aktor kartun lainnya.

   Kejadian diatas, tentunya menjadi pelajaran penting bagi kita, betapa besar pengaruh film kepada kehidupan anak-anak kita. Oleh sebab itulah menonton film motifasi bisa menjadi alternatif yang sangat baik untuk sibuah hati anda. Adapun pengarahan atau film-film yang ditampilkan adalah film-film yang sangat layak ditonton dan sesuai dengan keinginan anda.

    Hemat saran saya jika anda memiliki televisi dirumah, alangkah lebih baiknya lagi anda mulai menyaring mana tontonan yang layak ditonton oleh anak-anak kita. Jadi peran orang tua diharapkan sangat berperan aktif dalam pembentukan karakter dirumahnya.

Selasa, 19 Juli 2016

Bertepatan dengan masuknya siswa baru, sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo dalam MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu lebih dikenal dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya diisi dengan kegiatan, gerakan membaca buku.

Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.


Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.

Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.

Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa
Design by | Blogger Theme by fauzi baim - Blogger | perpustakaantim.com